Tugas Kajian Filsafat Ilmu, 16 Mei 2013

Kajian Ontologi, Epistomologi, dan Aksiologi dalam Unsur Pendidikan (Interaksi)

Oleh Kelompok 2 RS11D :

Dwi Haryanti (292011119)

R. Gita Ardhy N. (292011142)

Hayatul Fauzi (292011147)

Fetria Aprilia N. (292011149)

Nur Rohayat (292011153)

Pendidikan mempunyai tujuan untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik  agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh sesuai kultur, budaya, dan falsafah suatu bangsa. Peserta didik perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang dunia dan isinya. Mereka juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat. Interaksi peserta didik dengan benda dan dengan orang lain diperlukan untuk belajar agar peserta didik  mampu mengembangkan kepribadian, watak, dan akhlak yang mulia. Jenjang pendidikan pada usia rendah pada umumnya bersifat terpadu dan satu kegiatan dapat menjadi wahana belajar berbagai hal bagi peserta didik. Pembelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan, membuat peserta didik tertarik untuk ikut serta, dan tidak terpaksa. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, kajian ontologi yang ada pada pernyataan ini sebagian besar tercantum di dunia pendidikan. Objeknya sudah pasti ada dan diketahui oleh orang lain.

Di Indonesia sendiri, pendidikan tentunya tak lepas dari tinjauan epistomologi, yaitu cara seseorang untuk memperoleh pengetahuan. Kita mengenal bagaimana tipe belajar yang dimiliki oleh perserta didik. Diantaranya, tipe belajar visual (peserta didik belajar melalui pengamatan, artinya anak belajar menggunakan media gambar seperti foto, lukisan, dan benda-benda lain untuk menyerap informasi dan memperoleh sesuatu yang bernilai pembelajaran), tipe belajar audio (peserta didik belajar melalui mendengarkan informasi yang diterima berupa suara, seperti komunikasi lisan, bercakap-cakap, cerita, dongeng, dan tanya jawab), dan tipe belajar kinestetik (peserta didik menyerap informasi sebagai proses belajar melelui sentuhan, senang menyentuh dan meraba seperti membalik-balik, membongkar dan memasang benda-benda yang menjadi objek belajar mereka).

Masa kanak-kanak merupakan masa emas bagi pembentukan moral. Pada masa ini, jika suatu landasan moral yang baik telah berhasil ditanamkan, landasan moral tersebut selanjutnya akan menjadi penuntun individu dalam bertingkah laku seumur hidupnya. Pengembangan nilai moral dan budi pekerti pada peserta didik menjadi sangat penting khususnya implikasinya bagi pendidikan guna menciptakan generasi penerus bangsa yang tidak hanya maju secara intelektual namun juga kokoh dalam nilai moral dan kepribadian yang berbudi pekerti. Hal inipun sesuai dengan tinjauan secara aksiologis, yaitu pembahasan mengenai nilai moral pengetahuan yang ada.

Sumber : http://randinidini.blogspot.com/2013/01/hubungan-ontologi-epistemologi-dan.html

Untuk mendownload kajian ini, silahkan klik Kajian Ontologi, Epistomologi, dan Aksiologi dalam Unsur Pendidikan (Interaksi)

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s